Anggapan umum bahwa guru hanya bisa belajar dari ahli. Anggapan tersebut seringkali menghalangi guru belajar dari guru yang lain, bahkan menghambat guru berkarier menjadi narasumber. Anggapan tersebut sebenarnya hanya mitos. Kenyataannya, guru belajar lebih efektif dari guru yang lain, dari guru yang sudah mencoba dan gagal sebelum berhasil mempraktikkan suatu strategi pengajaran dan pendidikan. Temu Pendidik hadir untuk membongkar mitos tersebut sekaligus memfasilitasi para guru untuk saling belajar, lintas jenjang dan lintas bidang studi.

Komunitas Guru Belajar yang diinisiasi Kampus Guru Cikal menyelenggarakan Temu Pendidik Bandung pada Jumat, 24 Februari 2017 yang lalu. Kegiatan yang diadakan dalam rangka Pesta Pendidikan Bandung ini menghadirkan 4 guru anggota Komunitas Guru Belajar Bandung: Sinta Ratna Sari dari Sekolah Gagas Ceria, Iden Wildensyah dari Sekolah Alam Bandung, Titin Rostika dari SMP I Lembang, dan Kinkin Karimah dari Sekolah Mutiara Bunda. Kegiatan yang berlangsung dua jam tersebut diikuti 45 guru dari Bandung, Ciamis, Cirebon, Purwakarta, Kuningan dan Pekalongan. Suasananya seru karena cerita dari para narasumber yang menyentuh emosi peserta.

Bukik Setiawan dari Kampus Guru Cikal membuka acara dengan memberikan penjelasan mengenai tujuan dan manfaat Temu Pendidik. Setelah itu, narasumber pertama Guru Kinkin Karimah bercerita pengalamannya dalam melakukan pendidikan karakter. Salah satu poin menarik yang disampaikan bahwa bila ada murid yang menolak suatu tugas maka langkah guru yang tepat bukan memarahi atau menghukum, tapi mendiskusikan penyebabnya. Diskusi justru akan membuka wawasan murid sekaligus guru dan murid dapat menemukan solusi yang bisa diterima.

Guru Titin Rostika membuka acara dengan pertanyaan, “Berapa kira-kira usia saya?”. Ternyata beliau telah berusia di atas 50 tahun tapi tetap penuh semangat belajar, dari siapa saja bahkan dari muridnya. Beliau menceritakan pengalamannya mempraktikkan pendidikan inklusi. Pondasi keberhasilan pendidikan inklusi bukan pemahaman mengenai kategori kemampuan anak difabel, tapi keyakinan guru terhadap semua muridnya, terutama murid yang dianggap tidak mampu. Ada seorang murid yang dijebak untuk menjadi pelacur dan ketahuan pihak sekolah. Sekolah awalnya akan mengeluarkan murid tersebut. Tapi Guru Titin meyakinkan sekolah untuk memberi kesempatan pada murid tersebut. Berkat keyakinan dan pendampingan Guru Titin, sekarang murid tersebut justru telah lepas dari dunia pelacuran dan melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Narasumber berikutnya, Guru Sinta Ratna Sari bercerita pengalaman sekolahnya mengembangkan Lesson Study untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar. Berawal dari praktik sederhana, guru berbagi rencana pengajaran di lingkup sekolah secara berkala, hingga lingkupnya diperluas dengan menghadirkan ahli dan guru dari sekolah lain. Ada banyak temuan menarik yang disampaikan. Semisal, guru berkeliling kelas untuk memantau aktivitas anak belajar ternyata tidak selalu efektif. Kehadiran guru seringkali menjadi pengganggu karena komentar dan nasihat guru justru menghalangi kemandirian belajar murid. Jadi pelajaran, berkeliling kelas bukan untuk memotong proses belajar siswa tapi untuk mengamati, beri dukungan hanya bila murid memintanya atau murid menerima tawaran bantuan dari guru.

Terakhir, Guru Iden Wildensyah bercerita mengenai keprihatinannya tentang pendidikan literasi yang seringkali disalahpahami sebatas kemampuan membaca. Pendidik seringkali menuntut anak-anak untuk segera mampu membaca yang akibatnya anak-anak justru kesulitan menemukan makna dari bacaannya. Guru Iden menceritakan pengalamannya menumbuhkan kemampuan literasi dengan mengkombinasikan kegiatan menggambar, membaca, berdiskusi dan menulis. Kegiatan yang dilakukannya membuat literasi bukan sekedar pelajaran membaca pada pelajaran Bahasa Indonesia, juga bisa dilakukan di semua pelajaran.

Praktik yang dibagikan para guru narasumber menginspirasi para peserta. Peserta berpikir ulang ketika ada temuan yang berbeda dengan keyakinannya, menangis haru ketika ada peristiwa mengharukan, hingga tertawa ketika ada cerita lucu atau lelucon yang dilontarkan. Sesi berbagi inspirasi selesai, berikutnya sesi refleksi yang mengajak peserta membentuk kelompok dengan peserta lain yang berbeda sekolah/daerah. Mau tidak mau peserta mendapat kenalan baru yang bisa menjadi sumber inspirasi. Setelah terbentuk, peserta berbagi pelajaran yang didapatkan dari sesi sebelumnya ke teman sekelompok. Ramai!  Teman baru, inspirasi baru!

Menariknya, Temu Pendidik ini disiarkan langsung secara daring menggunakan fitur Facebook Live. Siaran langsung ini memungkinkan lingkup guru saling belajar bisa diperluas hingga seluruh nusantara, bahkan dunia. Anda masih bisa melihat rekamannya dengan berkunjung ke akun Facebook Kampus Guru Cikal.

komunitas-guru-belajar-bandung-3