Nama M. Aan Mansyur masih menjadi magnet yang menarik rasa ingin tahu banyak orang saat ini setelah kesuksesan film Ada Apa Dengan Cinta 2. Terbukti pada 29 Mei 2016, salah satu talkshow pada Pesta Pendidikan yang bertema sama dengan judul bukunya Tidak Ada New York Hari Ini dipenuhi banyak pengunjung. Acara yang didukung oleh kerja sama Ditjen PAUD-DIKMAS, Forum Taman Bacaan Masyarakat, dan Gramedia Pustaka Utama ini sukses digelar. Bahkan acara berlangsung selama satu setengah jam, durasinya bertambah dua kali lipat dari jadwal semula, yakni 45 menit.

Acara dibuka dengan pembacaan puisi oleh Ibu Rahayu Musdalifah yang berjudul “Bangkitlah”. Beliau adalah seorang guru SMK PGRI 3 Jakarta Selatan yang merupakan anggota Bengkel Sastra Guru dan Badan Bahasa. Selanjutnya, MC, Natalie Indry, bertanya tentang proses kreatif pembuatan buku puisi Tidak Ada New York Hari Ini.

Aan bertutur tentang pertemuannya dengan Mira Lesmana saat peluncuran buku puisinya pada 16 April 2015 di Kemang. Ajakan Mira Lesmana dalam pembuatan puisi untuk sekuel sebuah film laris membuat Aan Mansyur menawarkan ide lain, membuat buku kumpulan puisi.

Tidak-Ada-New-York

Proses pembuatan puisi-puisi tersebut berlangsung selama 6 bulan. Ia mulai melakukan riset dan bertransformasi menjadi “Rangga”. Riset ia lakukan secara sungguh-sungguh. Ia mulai menonton film Ada Apa Dengan Cinta yang pertama berkali-kali, baik menonton film secara utuh, potongan adegan semata, film dengan suara, maupun hanya video semata, tanpa suara. Selain itu, ia membuat timeline atas buku-buku yang kira-kira dibaca Rangga dalam kurun waktu 14 tahun di New York, membeli peta New York, mencari isu-isu yang terjadi selama kurun waktu tersebut, dan lain-lain. Dalam kurun waktu 6 bulan, ia berhasil menulis sekitar 200 puisi, namun hanya 31 puisi yang ia rasa layak ada dalam buku puisi.

Riset yang ia lakukan membuahkan hasil yang menakjubkan. Tidak Ada New York Hari Ini terjual 40 ribu eksemplar dalam satu bulan. Tentu saja ini merupakan prestasi yang membanggakan untuk buku puisi di Indonesia. Keindahan puisi yang menghipnotis jutaan orang itu tentu tak dibangun hanya dalam waktu 6 bulan saja. Aan Mansyur membutuhkan waktu bertahun-tahun mengasah kemampuannya.

Bakat menulisnya terasah semenjak kecil. Aan Mansyur merupakan pribadi yang pemalu saat masa kecilnya. Ia membutuhkan waktu 2—3 hari untuk menyampaikan keinginannya kepada ibu lewat sebuah surat. Surat pula yang menjadi media Aan Mansyur berinteraksi dengan sahabat pena di luar kampung halamannya. Ia menuliskan dongeng yang dikisahkan neneknya setiap malam kepada sahabat penanya. Tujuannya sederhana, ia ingin terus berkirim surat dan mereka menantikan kisah lanjutan dari dongeng neneknya.

Semenjak bertekad menjadi penulis pada tahun 2001, ia terus berlatih menulis setiap hari. Ia hidup bersama banyak orang yang memiliki ketertarikan sama di bidang menulis. Ia menulis saat semua orang tertidur karena membutuhkan kesunyian. Pagi hari, ia telah menyelesaikan tulisannya.

Tidak-Ada-New-York2

Bertahun-tahun belajar menulis puisi tak lantas membuatnya berani mengirimkan puisi ke media massa. Puisi pertama yang ia kirimkan ke Harian Kompas ternyata langsung diterbitkan. Penghasilan dari puisi pertamanya ia gunakan untuk mentraktir senior yang dulu pernah mematahkan semangatnya berlatih menulis puisi. Setiap kesuksesan yang ia raih juga berasal dari dukungan maupun hambatan yang pernah diterima dari orang lain.

Ketika seseorang bertanya soal tip menulis, Aan sendiri masih mengaku kalau menulis adalah pekerjaan yang paling berat. Ia mengibaratkan diri sebagai kotak kosong yang berisi 20 ribu tulisan buruk. Demi menghasilkan tulisan yang bagus, ia harus terus-menerus mengeluarkan tulisan buruk dalam dirinya setiap hari dengan menuliskannya.

Daerah Bugis memiliki pengaruh kuat dalam setiap tulisannya. Cara pandang orang Bugis dalam memaknai sesuatu dan keresahannya pada lingkungan menimbulkan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang pada akhirnya membuat ia terus menulis dan berusaha menerjemahkannya dalam setiap puisi. Ia selalu tergoda untuk menyodorkan pertanyaan dibanding jawaban. Keindahan ada pada masa lalu, itulah yang ia yakini dan menjadi salah satu sumber inspirasinya.

Antrian pun mengular begitu sesi bincang-bincang usai yang dilanjut dengan sesi tanda tangan.

Tidak-Ada-New-York1