“Karena toleransi tidak bisa hanya diajarkan, toleransi harus dialami dan dirasakan.”

Pada puncak Pesta Pendidikan yang berlangsung, Minggu, 29 Mei 2016, SabangMerauke menyelenggarakan bincang-bincang tentang penanaman nilai nilai toleransi yang bertempat di salah satu tenant fX Sudirman lantai f5, tepatnya di PJ’s.

SabangMerauke adalah komunitas yang aktif menyuarakan pesan toleransi di Indonesia. Berdiri sejak tahun 2013 yang awalnya hanya terdiri dari belasan relawan aktif. Kini, menurut Irma Sela, selaku Managing Director SabangMerauke, komunitas SabangMerauke sudah mencapai 130 orang relawan aktif. SabangMerauke sendiri ternyata merupakan akronim dari Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali; SabangMerauke (SM).

Menurut Patriya sang moderator, “Dalam sebuah riset yang dilakukan terhadap anak-anak SMP di suatu kota menyebutkan bahwa tantangan toleransi sekarang ini bukan hanya antar-agama, tetapi di dalam agama itu sendiri.”

1464502950776[1]

SabangMerauke sendiri mempunyai 3 program perekrutan dalam menularkan semangat toleransi, antara lain dengan perekrutan Adik SabangMerauke (ASM), Kakak Sabang Merauke (KSM), dan Family Sabang Merauke (FSM). ASM adalah program untuk anak-anak daerah yang mengikuti program pertukaran dari daerah ke Jakarta untuk tinggal bersama FSM. Selama program yang berjalan selama dua minggu di Jakarta ini, ASM tersebut akan didampingi oleh KSM. Pada talkshow SabangMerauke hari ini, selain menghadirkan Irma Sela, turut hadir Adik Iyos sebagai ASM, Dinda sebagai KSM, dan Keluarga Bapak Lukman yang diwakili istrinya sebagai FSM.

Menurut sang Managing Director yang aktif sejak 2014 sebagai relawan SM, para relawan SM sendiri tidak dibayar, tetapi tetap menjalankan pekerjaan seprofesional mungkin. Ia menekankan bahwa nilai penting SM selain toleransi, juga “keindonesiaan” dan pendidikan. Irma menyampaikan bahwa ternyata banyak anak daerah yang tidak percaya diri dengan bahasa dan logat daerahnya sendiri. Itulah makanya SM menargetkan untuk menanamkan nilai toleransi sedini mungkin; bahwa tidak apa-apa berbeda logat bahasa dan suku, tapi mereka adalah anak Indonesia. Mengapa SM mengusung nilai pendidikan? Karena banyak anak daerah yang kurang mendapatkan pemahaman bahwa pendidikan itu penting. Dengan program SM diharapkan dapat menjembatani bahwa pendidikan itu penting dari hasil interaksi mereka dengan FSM.

1464502970812[1]     toleransi-sejak-dini-sabangmerauke-web

Iyos sendiri mengakui bahwa untuk menjadi ASM, dirinya dipilih melalui seleksi yang dilakukan oleh pihak SM. Iyos yang bernama lengkap Rosmiyati merupakan siswa SMP di Karawang yang selama dua minggu tinggal bersama FSM di Bogor. Iyos seorang Muslim dan keluarga SM-nya beragama Kristen. Menurut Iyos, sebelum mengikuti program SM, di antara teman-temannya sering banyak yang berpikiran bahwa mereka yang berbeda agama itu jahat. Karena itulah, ia mengikuti program SM untuk membuktikan sendiri apakah hal tersebut benar. “Aku sempat takut kalau diajak ke tempat ibadahnya, gereja,” tutur Iyos. Namun ternyata, pada suatu kesempatan Iyos diajak oleh FSM-nya mengunjungi gereja saat FSM-nya akan beribadah, ketakutan itu pun sirna. Menurut pengakuan Iyos, “Aku malah diajak foto-foto karena pakai kerudung.” Saat ditanya apa pendapat orangtua Iyos ketika mengetahui anaknya akan diajak tinggal selama dua minggu bersama keluarga yang belum dikenal, Iyos menjawab bahwa justru ayah dan ibunya merasa senang dan bangga.

Lain lagi dengan Dinda, seorang relawan yang juga seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Dinda bergabung sebagai KSM karena awalnya diundang ke sebuah acara di TV swasta yang kebetulan narasumbernya dari SabangMerauke. Dinda menyampaikan bahwa sebagai KSM, selain berperan selaku mentor, dirinya bukan sekadar mengantar-jemput ASM. Tapi, ia juga menerapkan nilai-nilai toleransi kepada ASM dalam kurun waktu dua minggu. Dan selama menjadi KSM, ia merasakan banyak hal yang semakin meyakinkan dirinya bahwa toleransi itu indah.

Keluarga Ibu Nisa yang pernah menjadi FSM pun menuturkan bahwa awalnya ia hanya sebagai assesor untuk program ASM bersama psikolog lainnya. Kemudian pihak SabangMerauke menawarkan keluarganya untuk menjadi FSM. Setelah dilakukan survei oleh SabangMerauke, ia sekeluarga justru merasa semakin ingin merasakan jadi orangtua ASM. Menurutnya, hal yang paling penting bagi calon FSM adalah keterbukaan. “Yang paling penting keterbukaan kami menerima ASM, dan paling penting penerimaan terhadap siapa pun yang datang ke rumah kita,” tuturnya bijak. [Dede]