Literasi Indonesia, Sudah Apa dan Harus Apa

Menurut Cambridge English Dictionary, literasi berarti kemampuan membaca dan menulis. Lebih luas menurut Unesco (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization), literasi kini dipahami sebagai kemampuan mengidentifikasi, memahami, menginterpretasi, mengkreasi, dan berkomunikasi di dunia yang kaya akan informasi dan mengalami perubahan yang semakin cepat ini. Literasi juga merupakan motor bagi pembangunan berkelanjutan yang dapat meningkatkan partisipasi di pasar tenaga kerja, meningkatkan kesehatan anak dan keluarga, serta mengurangi angka kemiskinan dan memperbesar kesempatan hidup.

Kemampuan literasi berbeda-beda di tiap tahap perkembangan. OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) adalah salah satu lembaga yang melakukan pengukuran terhadap indikator kemampuan literasi. Tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan literasi anak disebut PISA (Programme for International Student Assessment), sedangkan untuk mengukur kemampuan literasi orang dewasa disebut PIACC (Programme for the International Assessment of Adult Competencies).

Secara umum, capaian negara Indonesia selalu di bawah rerata negara peserta, misalnya capaian anak-anak kita pada tes PISA tahun 2015 hanya di angka 397, sementara rerata negara lainnya adalah 493. Capaian Indonesia pada survei PIACC pun memperlihatkan bahwa 70% orang dewasa kita memiliki kemampuan literasi pada level 1. Pada level ini, individu hanya mampu menangkap informasi familiar saja dari sebuah cerita alias tidak benar-benar memahaminya. Level 1 ini setara dengan tahap perkembangan membaca anak usia 9-14 tahun, padahal orang dewasa seharusnya sudah mampu mengonstruksi dan merekonstruksi bacaan. Indeks perilaku membaca dan aspek-aspek pendukungnya diukur oleh Connecticut State University, dan Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara.

Berbagai program dan kegiatan terkait literasi telah dilakukan, mulai dari yang berupa kebijakan pemerintah hingga inisiatif-inisiatif yang dilakukan komunitas dan organisasi serta praktisi pendidikan, baik guru di sekolah hingga orangtua di rumah.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mencanangkan Gerakan Literasi Nasional dan Gerakan Literasi Sekolah di level nasional, yang salah satunya adalah gerakan 15 menit membaca di sekolah (Permendikbud No. 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti). Pada Januari 2016, Dinas Pendidikan DKI Jakarta mendeklarasikan Provinsi DKI Jakarta sebagai Provinsi Literasi. Deklarasi ini mencakup komitmen ibukota untuk membaca lima juta judul buku dalam setahun, oleh 1,7 juta peserta didik, 109 ribu guru, di ribuan sekolah. “Membaca lima belas menit merupakan langkah awal yang didorong di sekolah sebagai gerakan literasi, lebih baik lagi jika tidak hanya membaca, namun juga memaknainya,” ujar Sopan Andrianto, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, pada acara Beranda PSPK ke-9 yang bertajuk “Setelah Membaca, So What?” yang digelar pada 28 September 2017.

Sekolah sebagai institusi pendidikan (milik pemerintah maupun swasta) merupakan tempat berbagai kegiatan literasi dilakukan. Kreativitas dan inovasi dari kepala sekolah serta guru-guru mengambil peranan yang penting di dalamnya. Bu Iin dari Sekolah Gagas Ceria di Bandung misalnya, melihat kegiatan membaca dan menulis dalam arti yang lebih luas. Membaca dipandang sebagai segala bentuk kegiatan yang dapat membuka wawasan, dan menulis sebagai kegiatan menuangkan gagasan. Membaca di Sekolah Gagas Ceria dapat dilakukan dengan cara mendongeng, menonton video bersama, bahkan eksplorasi lingkungan dan diskusi dengan anak-anak. Menulis pun dapat dilakukan dengan kegiatan menghasilkan karya, baik dua maupun tiga dimensi, seperti gambar, komik, cerita tertulis, cerita lisan, dan bentuk-bentuk lain yang melatih anak mengomunikasikan idenya.

Tidak jauh berbeda dengan inovasi di Sekolah Gagas Ceria, SDN Rorotan 05, Jakarta Utara, melakukan berbagai inovasi membuat kegiatan membaca tidak hanya menjadi menyenangkan, tetapi juga membekali siswa dengan pemahaman dan kemampuan setelahnya. Pemaknaan literasi di SDN Rorotan 05 adalah substansi yang melingkupi seluruh kegiatan sekolah, mulai dari anak datang, dalam kelas, hingga pulang. Semua lingkungan sekolah harus mendukung dan mendorong literasi siswa, karenanya perlu kolaborasi antara siswa, guru, dan orangtua.

Keluarga Kita, organisasi yang bergerak di bidang pendidikan keluarga dan orangtua menyatakan setidaknya ada tiga peran yang perlu diambil orangtua terkait literasi. Yang pertama adalah dengan menjadi role model, anak harus melihat orangtuanya menikmati kegiatan membaca dan menulis. Yang kedua adalah memiliki interaksi yang menyenangkan dengan anak dalam menumbuhkan keterampilan literasi. Dan yang ketiga adalah konsisten menjadikan kegiatan membaca dan menulis sebagai rutinitas harian.

Lewat jalan-jalan yang inovatif dan beragam, komunitas dan organisasi serta praktisi pendidikan pun turut berkontribusi dalam literasi. Reality Check Approach menjalankan program Digital Storytelling yang memfasilitasi berbagai pihak untuk menceritakan pendapatnya secara nyaman melalui gambar dan bahasanya sendiri. Hal ini membantu mengumpulkan perspektif yang berbeda-beda terhadap suatu isu dan memantik diskusi. Tati Durriyah, dosen dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dan praktisi literasi, memaparkan pentingnya pendidikan guru dalam mendidik guru untuk memiliki tradisi membaca dan suka membaca.

Berbagai praktik baik di bidang literasi telah dilakukan. Di berbagai kegiatan dan program yang dilakukan oleh masing-masing pemangku kepentingan dapat dilihat potensi kolaborasi untuk membuatnya berkesinambungan maupun memperbesar manfaat. Salah satu kesepakatan yang dicapai pada Beranda PSPK ke-9 misalnya, menyebutkan bahwa pemerintah perlu terus mendukung literasi dengan hal-hal substantif, seperti mengintegrasikan pendidikan literasi dalam kurikulum pendidikan guru, serta memberikan kesempatan kepada anak untuk berdiskusi dan mengemukakan pendapat.

Dari diskusi daring yang dilakukan di Grup Whatsapp Pesta Pendidikan (PeKan) Nusantara pun terlontar beberapa ide kolaborasi yang bisa ditindaklanjuti, seperti aktivasi dongeng dan orangtua oleh Komunitas Ayo Dongeng Indonesia dan Keluarga Kita, membantu guru di daerah dengan mengajarkan literasi dasar kepada guru oleh organisasi INOVASI dan komunitas/organisasi yang bergerak di bidang pelatihan guru, serta menyebarkan praktik baik literasi yang telah dilakukan oleh komunitas dan organisasi lebih luas lagi. Selain ide-ide kolaborasi tersebut, pasti masih banyak ide kolaborasi yang bisa kita lakukan untuk mendukung literasi di Indonesia. Percakapan dan diskusi yang terjadi di Beranda PSPK maupun Diskusi Daring Grup Whatsapp PeKan Nusantara memperlihatkan bahwa ada potensi untuk mendongkrak kemampuan literasi di Indonesia yang hingga saat ini menunjukkan hasil yang belum memuaskan, dan salah satu caranya adalah melalui kolaborasi.

*Rangkuman diskusi berbagai pemangku kepentingan pendidikan pada Beranda PSPK ke-9, 28 September 2017, dan Diskusi Daring Grup Whatsapp PeKan Nusantara, 19 September 2017.