Menjawab Tantangan Hidup lewat Literasi

Empat belas tahun sudah Sokola mengembangkan metode dan pendekatan pendidikannya. Bagi kebanyakan orang, Sokola mungkin lebih dikenal sebagai Sokola Rimba, yaitu sekolah yang dirintis oleh Butet Manurung dan kawan-kawannya bagi orang rimba di tengah Taman Nasional Bukit Dua Belas. Hingga kini, Sokola telah dan juga sedang melayani serta mendampingi pendidikan komunitas adat melalui Sokola Pesisir, Sokola Kajang, Sokola Pulau, Sokola Asmat, dan Sokola Kaki Gunung. Bersama slogannya, “Sekolah untuk Kehidupan”, Sokola menjangkau komunitas-komunitas di Indonesia yang belum terakses sekolah formal untuk kemudian mendampingi dan membagikan pengetahuan serta life-skills agar mereka mampu menghadapi permasalahan dalam kehidupan sehari-sehari.

Melalui apa yang dilakukan Sokola, yaitu mengembangkan kurikulum berbasis literasi sebagai pendidikan bagi komunitas untuk menghadapi tantangan-tantangan lokal, kita dapat belajar mengenai hakikat literasi bagi kehidupan. Komunitas-komunitas adat yang dilayani Sokola tidak ada bedanya dengan komunitas masyarakat lain, termasuk masyarakat perkotaan, yang juga memiliki kebutuhan dan senantiasa menghadapi tantangan.

Pada rangkaian kegiatan memperingati perjalanan Sokola di tahun yang ke-14, untuk pertama kalinya Sokola berbagi metode dan pendekatan pendidikannya dalam sebuah pelatihan. Enam belas peserta terpilih mewakili berbagai daerah dan komunitas pendidikan di Indonesia mendapat kesempatan untuk belajar bersama. Berikut adalah cerita dari peserta pelatihan mengenai apa yang mereka peroleh dari pelatihan. Semoga cerita-cerita ini dapat menjadi bahan refleksi untuk semakin memahami literasi dan menjadikannya metode pendidikan yang menjawab kebutuhan kita. Selamat membaca.

literasi-sokola-1

Peserta dan pelatih pada pelatihan Sokola Institute dalam rangkaian kegiatan memperingati 14 tahun Sokola.

Literasi dan Persoalan Sehari-hari

Oleh Hanna Masturina (Sekolah Kita Rumpin)

Tidak sedikit orang yang memahami literasi hanya sebagai kemampuan individu dalam membaca dan menulis. Anak yang sudah melek huruf menjadi acuan keberhasilan ketika kita mendefinisikan literasi. Saya adalah satu dari banyak orang yang juga pernah keliru dalam menangkap makna dari kemampuan literasi. Saya pernah merasa cepat puas ketika mendapati murid saya sudah lancar membaca dan menulis huruf atau angka. Akan tetapi, saya bersyukur, berkat diskusi dengan beberapa kawan dan bantuan beberapa bacaan terkait dengan literasi, perlahan saya paham bahwa literasi lebih dari sekadar kemampuan kognitif individu dalam menulis dan membaca.

Pada September 2017 lalu, saya mendapat kesempatan baik untuk memperdalam lagi kajian akan literasi. Kesempatan itu datang melalui pelatihan metode dan pendekatan pendidikan yang digagas oleh Sokola Institute, sebuah pusat pembelajaran masyarakat adat Indonesia. Selama empat hari, saya dan 15 peserta lain didampingi oleh kawan-kawan fasilitator dari Sokola Institute mengupas banyak hal tentang pendidikan secara kontekstual, salah satu materi yang dipelajari adalah literasi. Pemantik awal diskusi ini dimulai dengan pertanyaan, “Bagaimana literasi dapat menjawab persoalan keseharian?” Pertanyaan ini menjadi penting dalam merancang sebuah program literasi karena persoalan keseharian masyarakat urban berbeda dengan persoalan keseharian masyarakat adat. Persoalan keseharian masyarakat dengan kultur berburu dan meramu berbeda dengan persoalan keseharian masyarakat digital. Setiap kelompok masyarakat memiliki ruang hidup ekologi, sosial, dan kultural yang berbeda sehingga tidak dapat diterapkan formulasi dan patokan keberhasilan tunggal untuk merancang program literasi. Program literasi bukan dirancang untuk menurunkan angka buta aksara di masyarakat, namun lebih dari itu, program literasi hidup sebagai upaya jangka panjang bagi komunitas untuk memahami―sekaligus kritis―atas posisi diri mereka dalam rantai kehidupan dunia.

Saya teringat cerita anak-anak suku rimba yang butuh belajar literasi dasar mengenai matematika dan mengenal huruf. Tujuan dari proses belajar ini bukan untuk memperoleh ijazah pendidikan formal, melainkan sebagai upaya mempertahankan ruang hidup mereka agar mampu melawan para pengembang dan orang luar yang kerap kali merampas hutan dan membeli kayu mereka dengan nominal rupiah yang rendah. Program literasi datang dari permintaan masyarakat suku rimba agar mereka mampu menjadi ‘advokat’ bagi kelompok mereka. Literasi bukan hadir untuk menggantikan atau menghilangkan keterampilan keseharian mereka, namun sebagai pelengkap ilmu yang telah mereka miliki. Dengan begitu, literasi hidup sebagai sesuatu yang diterapkan (applied) dan disituasikan (situated) melalui pemahaman tekstual dan kontekstual.

Ketika memutuskan untuk membantu masyarakat akar rumput, tak jarang latar belakang pendidikan formal dan profesi kita menyetir cara pandang kita saat pertama kali berinteraksi dengan mereka. Tak jarang pula niat baik untuk membantu justru beriringan dengan ego agar bisa menyaksikan cepat-cepat perubahan sosial dari kacamata kita, rasa memiliki ilmu yang lebih tahu dan lebih banyak ketimbang mereka, dan naluri ingin mengatakan benar atau salah atas praktik hidup mereka kerap kali muncul ketika kita hadir di tengah-tengah mereka. Membuka mata dan telinga untuk melihat dan mendengar dengan empati serta sadar bahwa kita adalah bagian dari mereka mungkin adalah hal pertama yang perlu dilakukan sebelum kita bergegas merancang program literasi untuk masyarakat akar rumput. Memulai untuk belajar menjadi pelajar yang rendah hati dan mau banyak mendengar tanpa menghakimi memang bukan perkara mudah, namun membiarkan diri kita terjebak terlalu lama di atas menara gading aktivisme sosial kita adalah keadaan yang menyesatkan dari sebuah proses pembelajaran.

 

Literasi untuk Menjawab Kebutuhan Komunitas

Oleh Diana Fitrisari

Akhir September 2017 lalu, saya mendapat kesempatan untuk berguru pada sebuah pelatihan yang berhasil mengubah pandangan saya terhadap pendidikan. Pelatihan ini diberikan langsung oleh Sokola, sebuah lembaga nirlaba pertama di Indonesia yang mengkhususkan diri pada pelayanan pendidikan literasi dan advokasi bagi masyarakat adat dan marginal dalam rangka ulang tahunnya yang ke-14. Sepanjang 21-24 September 2017, saya dan lima belas peserta lainnya yang memiliki latar belakang sebagai pegiat pendidikan berbagi kisah yang berbeda-beda di Cico Resort, Bogor. Selama empat hari itu pula, kami memperdalam pemahaman tentang filosofi pendidikan, literasi, pemahaman komunitas, diskusi, dan bertukar pengalaman seru di lapangan bersama kawan-kawan pengajar Sokola.

Dari beberapa materi pendidikan yang saya dapatkan, literasi adalah hal yang paling menarik untuk saya ceritakan. Apa itu literasi? National Institute for Literacy mendefinisikannya sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.” Singkatnya, literasi dapat dipahami sebagai salah satu bekal dasar manusia untuk bertahan hidup, terutama di konteks modern. Meski tampak biasa bagi kita, literasi sering kali luput dari kemampuan komunitas adat, padahal literasi diperlukan bagi mereka untuk dapat hidup beriringan dengan zaman yang terus berubah. Sokola menerapkan dua jenjang literasi dalam metode pendidikannya untuk komunitas adat, yakni literasi dasar dan literasi terapan. Literasi dasar adalah program pembelajaran baca, tulis, dan hitung kontekstual; sedangkan literasi terapan merupakan program lanjutan untuk mereka yang telah menuntaskan program literasi dasar dengan baik.

Literasi dasar yang diterapkan oleh Sokola kepada komunitas adat merupakan pembelajaran kontekstual yang disesuaikan dengan situasi setempat. Mengajarkan literasi dasar kepada komunitas adat bukanlah hal yang mudah. Supaya dapat dipahami oleh komunitas, sang guru haruslah menguasai bahasa lokal terlebih dahulu, seperti ejaan apa yang menjadi ciri khas, bagaimana mengejanya, mengidentifikasi ejaan apa yang sulit diucapkan, juga merujuk pada benda yang sering dipakai sebagai contoh ajar. Sampai di sini, bisa dibayangkan betapa serius perkara berkomunikasi menggunakan bahasa local. Saya mungkin perlu memakai bahasa isyarat agar maksud saya tersampaikan kepada mereka. Berbeda dengan sekolah modern yang menuntut murid untuk menyesuaikan diri dengan sistem, di Sokola adalah guru yang harus beradaptasi dengan kondisi peserta didik. Butet Manurung, guru relawan sekaligus pendiri Sokola Rimba di Jambi mencontohkan, anak-anak suku anak dalam senang bermain dengan ketapel. Karenanya, Butet menggunakan ketapel sebagai objek untuk mendeskripsikan abjad Y. Upaya seperti inilah yang diamalkan oleh Sokola dalam metode ajarnya.

Uji peserta terhadap bagaimana aspek kultural, persoalan harian, dan analisis aktor digunakan sebagai rujukan dalam intervensi program pendidikan di satu komunitas. (Foto oleh Sokola)

Selain prinsip bahwa pendidikan itu harus sesuai dengan konteks lokal, saya juga teringat pesan dari guru relawan Sokola Asmat, Fawaz, bahwa manfaat pendidikan mesti dapat dirasakan langsung oleh peserta didik dan komunitasnya. Harapan itu sejalan dengan tujuan program literasi terapan, yaitu agar peserta didik dapat mengaplikasikan kemampuan literasi dasar dalam kehidupan sehari-hari, khususnya sebagai alat bantu untuk memecahkan persoalan dalam komunitas, seperti menghitung luas tanah, berbelanja, bahkan mencatat gejala penyakit. Mengapa literasi terapan amat penting? Dikisahkan Fawaz, pernah ada seorang anak komunitas Asmat yang sakit dan dibawa ke Puskesmas setempat. Konon dokter menginstruksikan orangtua anak yang bersangkutan agar memberikan obat sebanyak tiga kali satu tablet dalam sehari, selama tiga hari berturut-turut. Kondisi si anak dikatakan akan membaik pada hari ketiga. Celakanya, orangtua si anak melakukan improvisasi. Jika anaknya mengonsumsi seluruh obat sekaligus dalam satu kali minum, barangkali ia akan cepat sembuh. Sungguh malang, si anak justru overdosis dan meninggal dunia.

Bagaimana Sokola menyasar permasalahan seperti kasus tersebut? Kisah di atas menunjukkan salah satu contoh persoalan mendesak yang dialami oleh komunitas adat. Ada situasi aktual yang perlu segera dipelajari agar komunitas tidak lagi menanggung akibat fatal. Untuk itu, Sokola bersama warga komunitas dan peserta program literasi melakukan pemetaan masalah, kemudian mengembangkannya menjadi kurikulum dan materi ajar literasi terapan. Keduanya diharapkan menjadi kerangka utama untuk menjawab masalah yang dialami oleh komunitas. Penyusunan kurikulum literasi terapan terdiri dari wacana yang hendak disasar, latar belakang urgensi wacana tersebut, tujuan kompetensi dasar, serta bentuk kegiatan belajar-mengajar. Sesudah disepakati bersama, barulah program literasi terapan dijalankan. Aktivitas, respons, dan dampak yang tercipta pada komunitas menjadi indikator penilaiannya. Program literasi terapan dianggap berhasil apabila komunitas dapat memanfaatkannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman yang diberikan Sokola kepada saya bukan sekadar pelatihan, namun sebuah pencerahan. Saya menikmati aktivitas sebagai pengajar, namun saya yang dulu mengajar tanpa memedulikan kebutuhan dan konteks peserta didik saya maupun kelompok tempatnya berasal. Saya hanya menuruti cara dan kebutuhan saya, tanpa memahami lebih dahulu apa yang diperlukan oleh mereka. Akan tetapi, kisah dan metode Sokola telah membuka mata saya. Kini saya mengerti bahwa pendidikan sejatinya ialah untuk mencerdaskan, membebaskan, dan memerdekakan. Pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia dan meningkatkan derajatnya. Pendidikan ada untuk kemandirian dan kedaulatan. Karenanya, ia harus kontekstual dan berpihak. Akan tetapi, pendidikan yang mengimpikan perubahan itu mustahil terwujud bila sang guru tak pernah memperbaiki dirinya dan memahami kebutuhan muridnya. Seperti kata Gandhi, “Bila engkau ingin mengubah dunia, mulailah dari dirimu sendiri,” sebab pengetahuan tidak pernah datang sendirian, melainkan dengan yang mengantarkannya.

Jadi, belajar dulu, baru mengajar!