Pojok Ngobrol Publik: Untuk Mendorong Literasi, Cukupkah Hanya dengan Mengirimkan Buku?

Berdasarkan data dari Central Connecticut State University terkait indeks perilaku membaca dan ketersediaan dukungan membaca, salah satu indikatornya adalah jumlah perpustakaan di suatu negara. Untuk indikator ini, Indonesia menempati urutan ke-36 dari 61 negara. Sedangkan capaian anak-anak Indonesia pada tes PISA tahun 2015 hanya berada di angka 397, sementara rerata negara lain adalah 493.  Capaian Indonesia pada survei PIACC pun memperlihatkan bahwa 70% orang dewasa kita memiliki kemampuan literasi setara dengan tahap perkembangan anak usia 9-14 tahun.

Apakah ada hubungannya antara keberadaan perpustakaan atau taman baca dengan kemampuan literasi?

Berikut adalah opini dan komentar mengenai buku dan kebiasaan membaca hingga kemampuan literasi yang diutarakan oleh penggerak pendidikan, khususnya yang aktif berkecimpung dalam inisiatif taman baca dan pengiriman buku.

pojok-ngobrol-2

Taman baca di Oeulu, Rote Timur, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

 

Opini

Kekuatiran terbesar saya pada aksi membuka taman baca yang ramai sekarang adalah tidak adanya inovator sosial untuk menjalankannya.

Usaha mendapatkan buku-buku untuk taman baca adalah penting. Saat ini, usaha tersebut mudah dilakukan, namun menemukan inovator sosial yang siap mengelola buku-buku tersebut adalah tantangan keberlanjutan, khususnya bagi tujuan-tujuan yang mendukung literasi.

Saya sangat mendukung inisiatif taman baca dan pengiriman buku-buku, tapi kritik ini adalah cara saya untuk memastikan bahwa saat buku telah disebar, taman baca telah dibuka, lalu apa yang dilakukan di taman baca dengan ketiadaan inovator sosial seperti yang saya jelaskan di atas?

Ini bukan perkara berhasil atau gagal.

Saya sangat ingin mendiskusikan kekhawatiran ini bersama rekan-rekan penggerak pendidikan yang lain.

(Danny Wetangterah – Penggerak Pendidikan di Kupang, NTT, & Inisiator Sekolah MUSA, KITONG, dan PAKARIANG)

Komentar 1

Setuju banget bahwa diperlukan seseorang (atau sekelompok orang) yang berperan aktif dalam mengelola taman bacaan/perpustakaan yang telah dibangun. Menyediakan buku bacaan saja tidak cukup. Harus ada orang-orang yang berkomitmen untuk mengadakan kegiatan-kegiatan/program yang mampu menstimulasi orang-orang untuk suka membaca agar buku-buku yang disediakan memang dibaca dengan baik.

Mencari orang-orang tersebut memang tidak mudah, apalagi kalau bentuknya voluntir alias tidak dibayar. Perlu orang-orang idealis untuk menjalankannya :).

Di Taman Bacaan Pelangi, kami memilih untuk membuka perpustakaan di sekolah-sekolah dasar dan memberikan pelatihan untuk guru-guru dan kepala sekolah di sekolah yang terpilih. Pelatihannya tentang sistem manajemen perpustakaan dan berbagai jenis kegiatan membaca yang bisa dilakukan di perpustakaan. Semua guru terlibat, jadi tidak hanya bergantung pada satu guru saja.

Semua harus merasa memiliki. Inilah yang akan membuat taman bacaan atau perpustakaan itu berkelanjutan.

Selain itu, kalau di Taman Bacaan Pelangi, kami juga melakukan advokasi ke kepala dinas pendidikan masing-masing daerah untuk mengadakan mata pelajaran perpustakaan di sekolah. Jadi, di sekolah yang terpilih, setiap kelas ada mata pelajaran khusus “Perpustakaan” per minggu. Guru kelaslah yang mengadakan kegiatan-kegiatan di perpustakaan, sesuai dengan modul yang telah diberikan pada saat pelatihan. Hal ini juga membuat perpustakaan-perpustakaan Taman Bacaan Pelangi lebih bertahan karena sudah masuk dalam kurikulum sekolah dan semua elemen sekolah terlibat, termasuk orangtua murid.

(Nila Tanzil – Founder Taman Bacaan Pelangi)

Komentar 2

Saya bicara dari apa yang dilakukan di Komunitas Buku Bagi NTT (BBNTT).

Pertama, banyak orang yang tidak benar-benar tahu apa itu BBNTT. Mungkin banyak yang mengira, kerja kami hanya kirim buku. Kalau kirim berton-ton buku, mau jadi apa? Kami adalah komunitas, bukan kerja satu-dua orang. BBNTT hanya medium. Ada relawan yang berperan menjadi integrator dengan donatur, ada yang mengirimkan buku, serta ada penggerak di NTT (Nusa Tenggara Timur) yang mengelola buku. Kalau tidak ada inovator atau penggerak di NTT, BBNTT tidak akan ada karena kami tidak asal kirim buku, melainkan bermitra dengan para penggerak sosial. Jadi, yang utama adalah para penggerak lokal di NTT yang mengelola buku-buku tersebut sebab buku-buku itu tidak akan dibaca kalau tidak ada yang bergerak.

Setiap bulan kami menerima proposal permintaan buku sekitar 10-20 pengajuan baru. Ini hal yang luar biasa karena berarti ada dampak yang terukur. Akan tetapi, penting dicatat bahwa inilah sesungguhnya kerja kami. Kami tidak akan kirim buku kalau tidak ada penggerak yang mengajukan permintaan buku karena itu adalah syarat utama. Penggerak lebih penting daripada buku.

Alasan kedua, siapakah kami berhak menghakimi atau menilai bahwa kawan-kawan penggerak yang bermitra dengan kami itu tidak layak disebut inovator sosial? Banyak di antara mereka yang sudah berbuat luar biasa. Mereka saling berkolaborasi membuat aksi-aksi luar biasa di tiap kabupaten. Cerita-cerita ini bisa dicek di media sosial kami, terutama di akun Instagram BBNTT: @bukubagi_ntt.

Ada juga penggerak yang memang tidak sering memutakhirkan informasi, bisa jadi karena sinyal internet tidak memadai. Hanya karena mereka tidak tampil atau bekerja dalam sunyi senyap, apakah itu berarti mereka tidak berkarya lebih baik? Belum tentu. Bisa jadi ada banyak yang sudah beraksi dalam bidang literasi dengan sangat inovatif, namun mereka memilih diam.

Baik relawan yang mengirim buku maupun penggerak yang menerima buku, kami berada dalam satu level. Tidak ada yang lebih baik di antara keduanya karena kami membangun sinergi satu sama lain.

(Wilibrodus Marianus Bata – Inisiator Buku Bagi NTT)