Dampak Sia-sia, kecuali Bersama Semua

oleh: Najelaa Shihab

Pendidikan menjanjikan masa depan. Kita semua yakin pentingnya anak-anak. Catatan ini bisa berhenti sampai di sini dan kita semua akan tersenyum karena sepakat.

Fakta menunjukkan, sebagian besar pengetahuan yang diajarkan lewat pendidikan tidak relevan dengan pekerjaan dan bermanfaat untuk masa depan. Data menggambarkan, sebagian sekolah bukan tempat yang aman untuk perkembangan anak, tapi penuh dengan perundungan dan beban berlebihan.

Walaupun kita semua pernah melalui pendidikan, hanya sekitar 20% seluruh populasi orang dewasa dunia yang setiap hari masih berhubungan langsung dengan lembaga pendidikan—sebagai pendidik berbagai jabatan atau orangtua. Karenanya, fakta dan data di atas mengagetkan buat 80% publik di masyarakat.

Setelah mendengar bahwa pendidikan melupakan anak, reaksi yang muncul biasanya beragam. Salah satu yang paling sering adalah menyalahkan. Sekolah memang sering kali dituntut menyelesaikan masalah yang sebenarnya merupakan bagian dari permasalahan bidang yang jauh lebih besar. Kemiskinan, lingkungan, kesehatan; semua berpengaruh langsung pada pendidikan. Bayangkan situasi anak usia 6 tahun yang baru masuk sekolah dasar, tetapi hadir dengan kelaparan atau terbiasa melihat kekerasan dan terpapar sebagai perokok pasif di rumah susun. Kematangan emosinya, kemampuan konsentrasinya, dan semua faktor lain yang esensial untuk kesiapan belajar tentu berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Apakah guru patut disalahkan saat anak tersebut gagal menuntaskan pemahaman pelajaran?

Pendidikan memang sering kali jadi kambing hitam. Masalah korupsi sampai radikalisasi atau polusi, semua dianggap bersumber dari pendidikan. Akan tetapi, saat kita diminta berkontribusi pada bidang ini, kebanyakan memilih peduli dengan menyatakan pentingnya reformasi, tetapi belum tentu melakukan aksi.

Untuk sebagian kita yang setiap hari bergulat di sekolah atau berperan sebagai guru, kata reformasi pendidikan sendiri sering dianggap  basi. Banyak sekali apati yang muncul karena reformasi yang terjadi setengah hati; perubahan yang sering kali terbatas pada mengejar angka atau memperbanyak administrasi. Nilai ujian—walaupun dengan kecurangan atau hasil bimbingan tambahan—dianggap sebagai kebanggaan. Sertifikasi atau akreditasi yang belum tentu menunjukkan kompetensi dipandang sebagai prestasi. Sikap negatif lain muncul karena reformasi sering kali berarti inovasi yang bertubi-tubi. Kata revisi kurikulum misalnya, berarti makin bertambahnya buku pelajaran, hampir tidak pernah berarti makin berkurang yang harus disampaikan.

Saya tidak mempertanyakan niat baik kebijakan reformasi, tetapi bila indikator kesuksesannya sekadar angka yang dipahami birokrasi, mekanisme umpan balik dari lapangan tidak transparan. Akibatnya, semua yang dilakukan hanya dinikmati sebagian anak dan tidak menjamin kesetaraan bagi seluruh anak Indonesia. Pendidikan menjadi jembatan rapuh yang tidak menjamin perubahan berarti.

Pengalaman reformasi pendidikan di banyak negara menunjukkan, saat 20% dari kami yang bergerak di bidang pendidikan melakukan perubahan, harapan yang menentukan keberhasilan 80% ada di masyarakat. Jumlah pendukung ini jauh lebih besar dan punya sumber daya jauh lebih banyak untuk terlibat. Terlepas dari masalah terpenting atau program prioritas, pelibatan publik menjadi penentu keberlanjutan. Publik yang menjadi mitra konsultasi, misalnya tentang bagaimana pendidikan dapat memenuhi kebutuhan industri. Publik yang bermitra di lembaga pendidikan, misalnya dengan menyediakan layanan unit kesehatan, bukan hanya untuk anak, tetapi juga untuk keluarga yang lebih mudah berobat sambil menjemput pulang sekolah. Publik yang berdaya, misalnya dengan mengumpulkan sumbangan membangun perpustakaan dan mengirim bahan bacaan, kemudian menjadi relawan membacakan cerita di waktu luang.

Begitu banyak yang ingin kita lakukan untuk pendidikan saat mendapat informasi bahwa kondisinya gawat darurat. Begitu beragam contoh inisiasi dan praktik baik dari negeri sendiri ataupun negeri seberang yang bisa menjadi panduan untuk kita kerjakan. Begitu berharga masa anak-anak sehingga menunda kebutuhannya dalam tempo singkat saja, bisa berarti ketertinggalan yang tak terkejar sepanjang masa. Berhenti menunggu, mengeluh, dan menyalahkan; mulai belajar, bergerak, dan bermakna barengan. Karena itu, Pesta Pendidikan hadir dan melibatkan semua pemangku kepentingan. Resolusi kita pada pekan ini perlu menjadi janji publik yang bersama-sama kita tepati.