Kampus Guru Cikal menantang beberapa desainer ternama bersama dengan murid-murid SMKN untuk mengubah citra guru yang awalnya kaku, menjadi lebih menyenangkan. Menurut Indriati Herutami, perwakilan Kampus Guru Cikal, “guru keren” itu merdeka. Merdeka untuk belajar, merdeka untuk mengajar, dan merdeka untuk memilih yang sesuai dan tidak.

Dalam talkshow “Kerennya Jadi Guru” di panggung F3 Pesta Pendidikan, pada Minggu, 29 Mei 2016, dua desainer kondang tanah air, Mel Ahyar dan Era Soekamto, masing-masing menampilkan desain baju guru yang telah mereka buat.

Era Soekamto berkolaborasi dengan Taufik seorang murid sekolah menengah kejuruan, membuat desain dengan motif daun talas dan Ganesha. Motif ini memiliki filosofi tersendiri. Talas menyerap air, seperti murid menyerap ilmu dari guru. Dan Ganesha merupakan lambang keteguhan. Dari motif yang dibuat, Era Soekamto mendesain baju seragam guru yang santai, tapi berwibawa, tidak terlalu kaku, dan terlihat modern.

kerennya jadi guru

Mel Ahyar, dengan bantuan Dini yang juga seorang murid sekolah menengah kejuruan, membuat motif  “Praya Udaya” yang memiliki arti “terbitnya harapan”. Mel Ahyar menggabungkan empat logo, yakni logo Garuda, Tut Wuri Handayani, Korpri, dan Pelita. Ia menggunakan warna-warna dasar, seperti merah-putih sebagai simbol Indonesia, kuning yang dianggap sebagai warna netral, biru yang mewakili warna seragam guru, serta abu-abu sebagai penyatuan warna hitam dan putih. Mel Ahyar berpendapat bahwa setiap guru memiliki pribadi berbeda-beda dan seharusnya begitu pula dengan seragamnya. Ada baiknya bila guru-guru diberikan motif seragam yang sama, namun memilih sendiri desainnya, sesuai kepribadian masing-masing. Adanya perbedaan dan kesenjangan adalah wujud untuk belajar menerima, pungkasnya.

1464498965327[1]